undefined

pada kebudayaan tradisional rakyat Vietnam, pernikahan adalah salah satu peristiwa yang paling penting dalam hidup.
Dalam masyarakat sekarang ini, pernikahan tradisional terlihat sangat kompleks, lama, dan seksama dengan proses 6 langkah standar: mulai dari seleksi calon pengantin perempuan atau yang pria (ken chon), saling bertemu muka (giam ngo), pertunangan (an hoi), pesta perkawinan, kembali ke orang tua pengantin perempuan (lai mat), dan pesta untuk para tetangga (le nop treo)

Saat proses ken chon, para orang tua memilih pasangan untuk anak mereka. Ini adalah proses seleksi, tidak hanya pasangan yang dipertimbangkan, tetapi juga situasi dan kedudukan dari keluarga pasangan saat ini.
Langkah ini memerlukan waktu yang paling lama, dan biasanya kedua keluarga telah memiliki hubungan yang baik selama bertahun-tahun.

Pada saat giam ngo, wakil dari keluarga sang pemuda (pada umumnya dipimpin oleh ayah dari sang pemuda) meminta persetujuan pada keluarga si gadis untuk menikahkan putranya dengan putri mereka. Jika keluarga si gadis menerima permintaan tersebut, maka rencana pernikahan akan dibahas secara lebih mendetail.

Pada saat an hoi, wakil dari keluarga pemuda membawa segala sesuatu yang diminta oleh keluarga si gadis, dan pada saat ini pula, semua detail pernikahan akan ditetapkan.
Sesudah pernikahan berlangsung, pengantin perempuan akan pulang bersama suaminya.
Lai mat adalah saat tiga hari sesudah pernikahan, di mana pengantin pria baru akan membawa isterinya dan beberapa hadiah tradisional kembali ke rumah orang tuanya untuk mengucapkan terima kasih mereka.

Pada le nap treo, pasangan suami isteri baru akan mengorganisir sebuah pesta untuk para tetangga untuk memperkenalkan kepada mereka pengantin perempuan yang baru dinikahi. Umumnya, dalam kesempatan ini, pasangan suami isteri juga mendermakan sesuatu kepada komunitas setempat.

Secara tradisional, isteri yang baru harus tinggal di rumah keluarga suaminya sejak malam pernikahan sampai akhir hayat hidupnya. Ini menyiratkan bahwa dia harus melepas rumah keluarganya yang sudah sangat dikenalnya dan masuk ke situasi yang sama sekali baru, dan bergaul dengan orang-orang dari generasi yang berbeda di dalam rumah suaminya.
Sebagai tambahan, pembauran ketat dengan orang-orang di desa memiliki arti bahwa ketika seorang istri yang baru datang untuk tinggal dengan suaminya, dia tidak hanya harus beradaptasi dengan keluarga suaminya, tetapi juga dengan kelompok komunitas suaminya.
Oleh karena itu, orang Vietnam zaman dulu betul-betul menganggap bahwa pernikahan bukan hanya antar dua individu, tetapi juga antar dua keluarga besar dan komunitasnya. Dengan begitu persiapan psikologis dari calon pengantin putri dan keluarganya adalah sangat penting.

Sumber :